hehehe.. can’t sleep and i’m not sleepy yet. already had a conversation with tere.
tere said : “dewi, km hebat skarang bisa kaya’ gini. dulu km yang kaya’ gitu, yang bener bener terpuruk sama masalah itu skarang kamu bisa bener-bener bisa berdiri kaya’ skarang. robin skarang baru ngrasain kehilangan aku ya wie setelah aku mulai bisa ngiklasin dia. saat aku mulai bisa pergi dari dia. skarang dia baru merasakan karmanya ya wie. Tuhan itu emang adil”
yes, He is!
ternyata karma itu ada. apa yang kita tanam, itu yang nantinya bakalan kita tuai. tanam tuai lah istilahnya.
and then i said like this to tere : “saat kita di posisi seperti itu, Tuhan tuh ngajarin kita buat belajar ikhlas kok re. ada saatnya kita harus melepas sesuatu. bukan dalam arti kita menyerah, tapi memang harus seperti itu. apa yang kita kasih ke dia itu sudah cukup segitu aja. ikhlas itu susah, lebih susah daripada melupakan.”
kata-kata tere yang ear catching tuh gini “ga enak ya rasanya kangen sama orang yang uda pergi dari kita”
dulu skali, iya! aku pernah merasakan hal itu.
memang hidup itu belajar.
dulu, aku belajar untuk engga posesif. aku belajar untuk memberi kebebasan kepada orang lain yang walaupun pada akhirnya kebebasan itu seakan akan disalahgunakan olehnya. dulu aku belajar untuk menerima kenyataan yang tidak sama dengan apa yang kuharapkan. aku belajar untuk mengontrol emosi, bukan dikuasai oleh emosi tapi aku yang mengendalikan emosi. dan memang belum sepenuhnya aku bisa mengendalikan, tapi at least sudah berkurang. semua itu ada prosesnya.
dulu aku belajar untuk cuek. dan aku bisa.
sekarang, pelajaran hidup ga berhenti disitu saja. beda orang, beda karakter.
sekarang aku belajar untuk kembali care. belajar untuk kembali sedikit posesif.
sama istilahnya dengan perumpamaan yang pernah aku tulis sebelumnya di postingan yang udah udah. aku punya segenggam pasir. dulu aku diajarin untuk tidak terlalu kuat menggenggam pasir itu, dan sedikit demi sedikit aku mulai memberi ruang itu pasir itu dengan tujuan agar pasir itu tidak terlepas dari genggamanku yang terlalu kuat. pelan pelan aku kurangi tingkat genggamanku itu sampai sampai aku ga sadar ternyata aku sampai pada tahap pasir itu sama sekali ga aku genggam. pasir itu memang masih ada di tangan, tapi sedikitpun engga aku genggam. bisa bayangin? cuma sekedar pasir itu ada di telapak tanganku yang terbuka. seakan-akan aku ga peduli lagi pasir itu mau jatuh karna tertiup angin ataupun ada tangan lain yang mau menggenggam pasir itu. itu aku lakukan karna aku sudah capek. kelewat capek. aku memilih untuk membiarkan pasir itu terbang kesana kemari karna memang itu yang dia mau. dan suatu ketika, pasit itu ingin aku genggam lagi. tapi untuk apa? pasir itu ga puas hanya dengan satu genggaman tangan. dia mau dari sekian banyak genggaman tangan. untuk ukuran pasir yang bisa dipegang oleh satu tangan saja, kenapa harus meminta lebih dari satu tangan? bukankah itu hal yang nantinya akan sia-sia?
ketika Tuhan mengijinkan kita untuk merasakan sakit, karna Tuhan pengen kita menjadi manusia yang jauh lebih kuat! Tuhan ingin membentuk kita seperti pribadi yang dia inginkan walaupun prosesnya mungkin membuat kita pada saat itu seperti tidak mampu untuk menopang beban dan rasa sakit itu. kadang manusia itu secara ga sadar meng-underestimate dirinya sendiri. merasa tidak mampu menjalani hidupnya yang semakin hari semakin berat, tapi nyatanya kita bisa melewati itu kan? sebenernya kita kuat kok. sebenernya kita bisa kok mengatasi semuanya.
sudahlah.
skarang, aku yang ada dihadapanku orang yang menginginkan aku jadi sosok yang care. care sampai ke hal-hal kecil. sosok yang seandainya dia jadi pasir, dia pengen digenggam dengan kuat kuat. kata mereka, ini karakter yang sangat jauh berbeda dengan karakter sebelumnya. seandainya boleh diperumpamakan seperti komputer, dia itu seperti komputer yang ada satu file, yang kalau di-klik, didalem file itu ada banyaaaak banget folder kecil kecil yang jumlahnya mungkin ribuan. setiap detail, setiap hal kecil ada foldernya sendiri. aaaah susah jelasinnya. pokoknya begitulah gambarannya.
tapi itu bukan jadi sebuah kendala, tapi aku menjadikannya sebagai sebuah tantangan untuk ditaklukkan. uji kemampuan! emang cuma orang mo kerja aja yang ada uji2 nya :p pacaran jugaa
dan hal yang sedang dalam usaha aku tanamkan kuat kuat di dasar pemikiranku itu :
takut itu naluri alami manusia. tapi jangan mau kalah dengan rasa takut. just be brave! hanya boleh takut sama Tuhan. jadi untuk apa kita dikalahkan dengan rasa takut itu? toh rasa takut itu bukan Tuhan. prinsipnya “if tomorrow never comes” aja. berpikir bahwa besok itu kiamat, jadi do the best for today. semaksimal mungkin. okaiiii?? ajiiib!!
dewi memang hebat!
klo tere bilangnya “i’m loyal” klo aku cukup bilang “thanks God, they said that my voice is great” HAHAHA..
makasiy untuk teman teman yang bilang seperti itu
Recent Comments